Fakta.id, NASIONAL – Pemerintah Swedia kini berinvestasi besar-besaran untuk mengembalikan penggunaan buku cetak ke dalam ruang kelas setelah sebelumnya menjadi pelopor digitalisasi pendidikan global.
Langkah strategis ini diambil secara resmi oleh pemerintah di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai dampak buruk pemakaian layar elektronik terhadap proses belajar anak.
Para siswa kelas empat di Sekolah Bandhagen Stockholm kini mulai membaca lantang materi cetak setelah menghabiskan sebagian jam pelajaran dengan buku fisik pada Sabtu (20/6/2026).
Pemandangan baru di dalam ruang kelas tersebut mencerminkan peralihan kebijakan pendidikan negara yang secara masif kembali pada sistem pembelajaran konvensional berbasis kertas.
“Saat membaca lewat perangkat digital, saya biasanya pusing,” kata Emilia seorang pelajar setempat.
“Saya bisa berkonsentrasi lebih baik ketika membaca buku fisik,” imbuhnya.
Swedia sebelumnya telah mengadopsi perangkat digital secara masif di berbagai sekolah sejak tahun 2010 silam.
Perdebatan mengenai efektivitas metode ini mulai mencuat setelah hasil Program Penilaian Pelajar Internasional menunjukkan penurunan tajam pada nilai membaca dan matematika siswa antara tahun 2018 hingga 2022.
Tinjauan khusus yang diprakarsai oleh pemerintah bersama para ahli saraf dan pakar anak menyimpulkan bahwa ketergantungan pada layar elektronik dapat merusak rentang perhatian.
Hasil tinjauan medis tersebut juga membuktikan bahwa penggunaan buku cetak dan materi fisik jauh lebih efektif untuk mendukung optimalisasi pemahaman materi akademik.
Merespons temuan tersebut pemerintah akhirnya mengubah arah kebijakan pendidikan secara drastis pada tahun 2023 dengan kembali mendorong metode pengajaran berbasis kertas bagi siswa usia dini.
Pemerintah setempat langsung mengalokasikan dana sekitar Rp1,25 triliun hingga Rp1,42 triliun setiap tahunnya hingga tahun 2025 untuk pengadaan materi fisik di jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.
Kembalinya negara Skandinavia tersebut ke metode konvensional ini terjadi tepat ketika beberapa negara lain di dunia justru sedang gencar melakukan digitalisasi sistem pendidikan.
Jepang menjadi salah satu contoh negara yang baru-baru ini mengesahkan revisi undang-undang untuk memperkenalkan perangkat digital sebagai materi pengajaran resmi.
Ketua Komite Pendidikan Parlemen Swedia Joar Forssell menegaskan bahwa perubahan haluan ini didasari oleh temuan medis terkait perkembangan struktur otak anak usia sekolah.
“Keputusan ini didasarkan pada penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak, yang otaknya masih berkembang, mungkin sangat rentan terhadap dampak perangkat digital,” kata Joar Forssell.
Meski demikian beberapa peneliti dan pendidik menunjuk pada faktor lain di balik melemahnya performa akademik para peserta didik tersebut.
Faktor lain yang diduga memicu penurunan prestasi akademik tersebut meliputi adanya perubahan demografis serta tantangan adaptasi yang dihadapi oleh kelompok siswa dari keluarga imigran.
Swedia memang tercatat mulai menerima kedatangan imigran dan pengungsi dalam jumlah besar dari wilayah Suriah Afganistan serta negara-negara Afrika sejak tahun 2015.
Kepala Sekolah Bandhagen Pia Nystrom berpendapat bahwa pemerintah seharusnya fokus menemukan keseimbangan yang tepat antara metode pengajaran digital dan tradisional alih-alih hanya menyalahkan instrumen teknologi.















